>

Alasan Mengapa Anda Harus Membudayakan "Mau Bertanya"


Hai sobatku, bagaimana kabar Anda? saya harap Anda baik-baik saja ya.. soalnya saya mau sedikit berceloteh nih. Kali ini, saya ingin berbagi tentang mengapa Anda harus membudayakan "mau bertanya". Kalau sakit kan jadi kurang enak bacanya. Monggo dilanjut, baca sampai tuntas artikel ini.

Saat ini, saya jadi ingat pengalaman waktu SMA dulu. Kurang lebih 8 tahun yang lalu lah.. Tapi tunggu dulu.. 8 tahun lalu berarti sekarang sudah tua ya.. wkkkk.. Ya sudah, ceritanya, dulu ada seorang bapak-bapak membawa mobil, keluar dari puskesmas di kecamatan sausu. Nah, kebetulan saya menunggu angkutan umum di pinggir jalan, bapak-bapak tersebut bertanya kepada saya kurang lebih begini "dek, mau tanya, di mana desa Suli ya?"

Hem, dengan keyakinan penuh terhadap apa yang ada dalam dada ini, saya langsung menunjuk ke arah timur dan berkata "ke sana pak, kurang lebih 3 kilo lagi"

"Oh, terima kasih ya dek", jawab bapak itu dengan senang. Saya berani jamin bapak itu senang sekali mendapatkan petunjuk, karena kan bisa dilihat dari raut mukanya.

Bapak tersebut langsung menuju arah timur. Setelah itu, saya langsung mengejar teman saya yang sedang berjalan (mau pulang juga).

Saya: "eh, Desa Suli itu di mana sih?"

Teman: "Di sana. Kenapa su?"

Saya: "Hah? Yang bener? serius?" Tanya saya seolah kurang yakin.

Teman: "Iya, bener"

Haduh Ya Allah, saya langsung pucat. Bagaimana tidak, teman saya menunjuk ke arah barat. :'(

Duh gusti, berarti saya berdosa telah membohongi bapak itu.. Saya takut kalau bapak itu marah.. Tapi teman-teman saya malah menertawakan serta meledek saya.. Gimana nih?

Waktu itu sempat juga sih saya panggil-panggil mobil itu. Tapi namanya juga sudah mulai jauh. Mana mungkin dia dengar. Mohon maaf bapak, siapa tau bapak membaca artikel ini, tolong saya dimaafkan :'(

Dari kejadian ini, saya merasa sangat berdosa. Kadang saya juga tidak habis pikir. Kok bisa sih nama kampung yang ada di kecamatan sendiri tidak tau di mana letaknya?. Tapi jawabannya sudah jelas, karena saya anak mami yang jarang  keluar ke mana-mana. Titik.

Nah, dari pengalaman ini, bapak tersebut sudah benar. Dia bertanya dulu sebelum membelokkan mobilnya ke arah barat atau timur untuk menuju desa suli. Yang salah adalah saya, yang tidak mau bertanya kepada teman-teman yang waktu itu berjalan di dekat saya. Intinya, yang bertanya benar, yang tidak bertanya sok tau namanya. Intinya lagi, siapa yang sok tau itu kalau bukan saya? :'(

Akhirnya, Karma Datang Juga

Saat ini saya bekerja di salah satu profider interenet di kota palu. Saya sebagai teknisi jaringan internet, tugas saya adalah keliling kesana-kemari untuk memperbaiki koneksi internet di rumah-rumah pelanggan. Karena pelanggannya lebih dari seribu orang, tentunya tidak semuanya saya ketahui alamat rumahnya satu per satu.

Nah, pada suatu hari, saya pergi untuk memperbaiki internet di rumah pelanggan di perumahan BTN silae. Karena saya tidak tau detail alamat rumahnya, pas sampai di perumahan saya bertanya kepada bapak-bapak yang menunggu anaknya sekolah di depan SD.

Saya: Pak, jalan ampana di mana ya?

Bapak: oh, kamu terus lewat situ, belok kanan sampai mentok di atas. Yang ke kiri itu jalan ampana. Pokoknya di sekitar situ.. Begitu kata bapak tersebut.

Saya: terima kasih pak..

Bapak: Iya..

Ya sudah deh, karena saya rasa sudah jelas, saya langsung cabut ke arah yang ditunjukkan oleh si bapak.. singkat cerita akhirnya sampailah di atas (di tempat yang diberitahu bapak). Tapi pas mondar mandir, kok tidak ada jalan ampana? Gumam saya dalam hati. Saya naik turun sampai kesana kemari tetap jalan ampana tidak ada.

Karena sudah hampir putus asa, saya bertanya kepada ibu-ibu warga di situ.

Saya: Ibu, jalan ampana di mana ya?

Ibu: Di bawah dek,, di belakang sekolah SD itu, kamu belok kanan.

Setelah saya cek, ternyata benar kata ibu itu. Jalan ampana ada di belakang SD tempat bapak yang menunggu anaknya itu. Oh ya Allah, rupanya bapak tersebut kurang paham jalan di sini, tapi berani menunjukkan arah karena merasa yakin. Yah, tapi tidak apa lah, mungkin ini karma dari apa yang saya lakukan 8 tahun silam. Buktinya saya ke atas, tapi yang benar ke bawah he he.. Tapi untungnya jaraknya tidak sampai 3 KM ya ...

Dari pengalaman ini, ada pelajaran yang bisa dipetik. 

Pertama, kalau tidak tau pasti di mana alamat yang ditanya orang lain, lebih baik bilang "maaf saya kurang tau" dari pada harus menjawabnya tapi salah, dan malah menyesatkan orang seperti apa yang saya lakukan dan apa yang bapak-bapak tersebut lakukan kepada saya.

Kedua,  bagi yang bertanya alamat, lebih baik banyak bertanya dari pada tidak mau bertanya. Seperti contoh kasus tersebut. Bayangkan kalau saya tidak bertanya untuk kedua kalinya kepada ibu-ibu tadi. Apa jadinya? Pasti saya tidak mendapatkan alamat yang saya cari. Atau, paling tidak saya akan kesulitan mencarinya meskipun akhirnya saya dapatkan.

Makanya, inilah alasan mengapa kita harus membudayakan mau bertanya

1. Supaya tidak sesat di jalan

Bagi musafir, atau orang yang kerjanya keliling mencari alamat rumahnya orang, tentunya harus banyak bertanya. Karena tidak mau bertanya, resikonya bakal sesat di jalan. Mencari jalan ini,, ee.. taunya kita di jalan itu.. Bagus kalau jaraknya dekat.. kalau jauh, bisa memble deh..

2. Supaya Tidak Salah alamat

Coba bayangkan kalau Anda masuk pagar rumahnya orang kemudian tanpa bertanya dulu itu rumahnya siapa. Kemudian Anda dengan santai mengatakan "ini rumahnya anu kan?" Baru dijawab oleh yang punya rumah: "Bukan" (tanpa tanda tanya, tanpa tanda titik, tapi pakai tanda seru sambil mengkerutkan kening) Malu tidak? ya pasti malulah,, kecuali Anda tidak punya kemalu#sensor xixixi..

3. Supaya Tidak Dicurigai Orang

Mungkin poin ketiga ini sedikit kurang masuk akal. Tapi faktanya, kalau kita mencari jalan atau alamat cuman berputar-putar, kemudian tengok kanan dan kiri tanpa berhenti untuk bertanya kepada orang lain, ya bisa saja kita dicurigai sebagai orang yang akan berbuat macam-macam.

Bukannya apa ya, sekarang tuh yang namanya curiga bukan cuma soal maling, perampok, atau begal. Maraknya kasus terorisme yang bahkan masih belum lama terjadi di Sarinah, juga menjadi pertimbangan orang-orang untuk mencurigai kita, dan menganggap kita jangan-jangan teroris. Ya kalau cuman dicurigai begitu saja sih tidak terlalu merugikan kita. Kalau sampai kita dilaporkan polisi, atau digebukin warga beramai-ramai bagaimana coba?

4. Supaya Mempercepat urusan

Siapa pun itu, saya atau pun Anda, pasti ingin agar urusan kita cepat selesai bukan? Termasuk mencari alamat tadi. Nah, kalau kita buru-buru dan ingin bertemu dengan seseorang yang kita cari alamatnya tersebut, jalan terbaik adalah dengan bertanya kepada seseorang yang ada di sekitar situ, untuk menunjukkan di mana alamat yang kita cari.

Misalnya rumahnya pak bejo di jalan apa, gang apa, nomor berapa, blablabla... kalau kita cuma berputar-putar, kemudian tidak tau juga arahnya, sementara kita juga tidak tahu berapa nomor hpnya, bagaimana urusan kita mau cepat selesai?

Nah, sobatku, Yang jelas, apa pun alasannya, kalau kita mau bertanya, ya nggak bakalan sesat di jalan..

Cuman begini saja tulisan sederhana ini, semoga ada manfaatnya untuk Anda meskipun hanya secuil.. :D



Subscribe to receive free email updates: